Loading...

Please wait...

Toggle Sidebar
Education

Hantavirus: Penyakit dari Paparan Tikus yang Perlu Diwaspadai

2026-05-11
Hantavirus: Penyakit dari Paparan Tikus yang Perlu Diwaspadai image

Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh rodensia, terutama tikus, dan dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia. Penularan hantavirus umumnya terjadi melalui inhalasi partikel aerosol yang berasal dari urin, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi. Oleh karena itu, aktivitas seperti membersihkan gudang, rumah lama, atau ruangan tertutup yang banyak terdapat tikus dapat meningkatkan risiko paparan hantavirus.

Meskipun belum seumum dengue atau leptospirosis di Indonesia, hantavirus perlu mendapat perhatian karena dapat menyebabkan gangguan berat pada paru maupun ginjal. Selain itu, gejala awal penyakit ini sering kali menyerupai infeksi virus biasa sehingga diagnosis dapat terlambat ditegakkan.

Secara klinis, hantavirus dapat menyebabkan dua bentuk penyakit utama, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Pada HPS, keluhan awal biasanya berupa demam tinggi, nyeri otot, lemas, sakit kepala, mual, atau diare. Gejala tersebut dapat berkembang cepat menjadi sesak napas berat akibat edema paru dan gangguan pernapasan serius. Pada beberapa kasus, pasien juga dapat mengalami syok yang mengancam nyawa.

Sementara itu, HFRS lebih dominan menyerang ginjal. Gejalanya dapat berupa demam mendadak, nyeri kepala hebat, nyeri punggung atau perut, penurunan jumlah urine, hingga gagal ginjal akut dan perdarahan. Tingkat keparahan penyakit dapat berbeda-beda tergantung jenis hantavirus yang menginfeksi.

Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali hantavirus adalah gejala awalnya yang tidak khas. Pada fase awal, pasien sering kali hanya tampak seperti mengalami flu, demam berdarah, leptospirosis, atau pneumonia biasa. Padahal, kondisi dapat memburuk secara cepat dalam waktu 24–48 jam. Oleh karena itu, riwayat paparan tikus menjadi informasi penting yang perlu digali saat pemeriksaan medis, terutama pada pasien dengan demam akut yang disertai gangguan paru, gangguan ginjal, atau trombositopenia.

Indonesia sendiri bukan merupakan negara yang bebas dari hantavirus. Berbagai penelitian telah menemukan bukti keberadaan hantavirus pada manusia maupun rodensia di Indonesia sejak tahun 1980-an. Salah satu jenis yang ditemukan adalah Seoul Virus, yang diketahui lebih sering menyebabkan HFRS. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga Mei 2026 mencatat adanya kasus hantavirus di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, DIY, Jawa Barat, dan sejumlah daerah lainnya.

Meskipun jumlah kasus yang dilaporkan masih terbatas, para ahli menilai kemungkinan besar hantavirus masih underdiagnosed karena gejalanya menyerupai penyakit infeksi lain yang lebih umum ditemukan. Dengan meningkatnya kewaspadaan tenaga kesehatan dan pemeriksaan yang lebih baik, diharapkan kasus dapat dikenali lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal.

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko paparan hantavirus, antara lain:

  • membersihkan gudang atau rumah yang lama tidak digunakan,
  • tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi,
  • bekerja di sawah atau ladang,
  • berada di area pasca-banjir,
  • serta membersihkan sarang tikus tanpa alat pelindung diri.

Karena penularan terjadi melalui partikel yang terhirup, cara membersihkan lingkungan menjadi hal yang penting diperhatikan. Membersihkan area terkontaminasi dengan cara menyapu kering atau menggunakan vacuum cleaner tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan partikel virus beterbangan di udara.

Hingga saat ini belum terdapat antivirus spesifik yang terbukti efektif untuk seluruh jenis hantavirus. Oleh sebab itu, penanganan utama bersifat supportive care atau terapi penunjang yang dilakukan secara agresif dan tepat waktu. Pasien dengan gangguan pernapasan mungkin membutuhkan terapi oksigen, ventilasi mekanik, hingga perawatan intensif di ICU. Pada kondisi tertentu dengan gangguan ginjal berat, tindakan dialisis dapat diperlukan.

Karena penyakit dapat berkembang cepat, pasien dengan kecurigaan hantavirus tidak dianjurkan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum mendapatkan penanganan suportif yang memadai. Penilaian klinis dan pemantauan ketat tetap menjadi kunci utama dalam tata laksana pasien.

Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menurunkan risiko hantavirus. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • menjaga kebersihan lingkungan,
  • menutup celah masuk tikus ke rumah,
  • menyimpan makanan dalam wadah tertutup,
  • mengelola sampah dengan baik,
  • serta mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal.

Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi ekskreta tikus, ruangan sebaiknya dibuka terlebih dahulu agar memiliki ventilasi yang baik. Gunakan masker dan sarung tangan, kemudian semprotkan disinfektan sebelum membersihkan area tersebut. Setelah selesai, pastikan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Meskipun hantavirus dapat menyebabkan penyakit berat, masyarakat tidak perlu panik. Sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia, dan risiko penularan dapat ditekan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari paparan ekskreta tikus. Kewaspadaan terhadap gejala dan riwayat paparan menjadi langkah penting agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Referensi:

  • World Health Organization (WHO). Hantavirus Fact Sheet. Updated 2024–2026.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Hantavirus.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging Minggu Epidemiologi ke-17 Tahun 2026.
  • Lukman N, et al. Hantavirus in Indonesia: Review of evidence and future studies needed. Viruses. 2019.