Loading...

Please wait...

Toggle Sidebar
Education

Pantau dan Skrining Buah Hati Sejak Dini

2026-04-02
Pantau dan Skrining Buah Hati Sejak Dini image

Dalam Rangka Hari Peduli Autisme Sedunia – 2 April 2026

Tumbuh kembang anak merupakan proses yang sangat penting dan harus dipantau secara berkala sejak usia dini. Setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda, namun terdapat batasan usia tertentu yang menjadi acuan apakah perkembangan tersebut masih dalam kategori normal atau memerlukan perhatian lebih. Dalam rangka memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia, penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda awal gangguan perkembangan, termasuk pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), agar dapat dilakukan deteksi dan intervensi sedini mungkin.

 

Pemantauan tumbuh kembang anak sebaiknya dilakukan secara rutin melalui skrining perkembangan sejak usia bayi. Pemeriksaan ini idealnya dilakukan pada usia 6 bulan, 9 bulan, 18 bulan, 24 bulan, hingga 30 bulan. Pada rentang usia tersebut, tenaga medis dapat mulai mengidentifikasi adanya keterlambatan atau perbedaan perkembangan dibandingkan anak seusianya.

 

Gejala awal anak berkebutuhan khusus umumnya sudah mulai terlihat pada usia 6 hingga 18 bulan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain keterlambatan dalam kemampuan berbicara, kurangnya interaksi sosial, serta adanya perbedaan perilaku. Misalnya, bayi yang tidak menunjukkan senyuman atau respons terhadap ekspresi bahagia, tidak meniru suara, serta kurang menampilkan ekspresi wajah pada usia sekitar 9 bulan.

 

Pada usia 12 bulan, anak yang tidak mengoceh atau tidak mengeluarkan suara khas bayi juga perlu diperhatikan. Selanjutnya, pada usia 14 bulan, anak yang tidak menunjukkan gesture seperti menunjuk atau melambaikan tangan, serta pada usia 16 bulan yang belum mampu mengucapkan kata sederhana, dapat menjadi tanda adanya keterlambatan perkembangan.

 

Kondisi anak berkebutuhan khusus dapat mencakup berbagai spektrum, seperti autisme, keterlambatan bicara (speech delay), hingga gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Penyebabnya pun beragam, mulai dari faktor genetik hingga faktor lingkungan.

 

Salah satu faktor lingkungan yang saat ini cukup sering ditemukan adalah paparan berlebihan terhadap layar elektronik seperti televisi, ponsel, atau tablet pada usia dini. Kebiasaan memberikan gadget agar anak tetap tenang justru dapat berdampak negatif terhadap perkembangan anak, terutama dalam hal kemampuan bahasa, interaksi sosial, serta perkembangan motorik halus dan kasar. Pada usia balita, otak anak masih dalam tahap perkembangan pesat sehingga membutuhkan stimulasi yang tepat melalui interaksi langsung, bukan dari layar.

 

Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk memberikan batasan penggunaan perangkat elektronik pada anak, serta lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas interaktif seperti bermain, berbicara, membaca buku, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

 

Apabila orang tua menemukan tanda-tanda keterlambatan atau gejala yang mengarah pada anak berkebutuhan khusus, sangat dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, khususnya yang memiliki kompetensi dalam tumbuh kembang. Deteksi dan intervensi dini terbukti memberikan hasil yang jauh lebih baik dalam membantu anak mencapai potensi optimalnya.

 

Melalui pemantauan dan skrining sejak dini, diharapkan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tahapannya. Kesadaran dan peran aktif orang tua menjadi kunci utama dalam mendukung masa depan anak yang lebih baik.

 

Referensi:

American Academy of Pediatrics. Developmental Surveillance and Screening of Infants and Young Children.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Developmental Milestones.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.